Pertanyaan yang sering diajukan :

Apakah Assessment sama dengan ujian?
Kata assessment, belakangan ini sudah semakin banyak dipergunakan. Pada dasarnya, assessment itu adalah suatu proses penulusuran bukti. Metode assessment, seperti juga yang bakukan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), dapat menggunakan beberapa metode.

Untuk membuktikan bahwa seseorang adalah kompeten pada profesi yang di assess, tidak harus selalu menggunakan metode yang sama, namun tergantung kepada kondisi kemampuan dan psychologisi dari “Asesi” atau orang yang akan di assess tersebut.

Metode penulusuran bukti yang dimaksud, dapat melalui, forto folio, observasi , wawancara, hasil kerja, dan juga melalui testing. Sehingga si asesi tidak harus bersusah payah untuk mengerahkan seluruh kemampuan fikirannya, hanya untuk membuktikan yang bersangkutan kompeten.

Apa yang menjadi Pembuktian Kompetensi Seseorang?
Assessment adalah menelusuri bukti kompetensi suatu profesi, dan yang menjadi acuan pembuktiannya adalah Kriteria Unjuk Kerja (KUK) yang terdapat dalam unit-unit Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI).

Maksudnya adalah apakah seseorang telah dapat memahami dan mampu mengerjakan pekerjaan seperti yang tertera dalam KUK tersebut.Pertanyaan selanjutnya, ada berapa banyak KUK yang perlu dibuktikan untuk mendapatkan setifikat kompetensi.

Jumlah KUK yang harus dibuktikan, tergantung kepada profesi dan klasifikasi jabatan yang diambilnya. Setiap jabatan profesi memiliki skema sertifikasi yang berbeda, khususnya dalam hal jumlah maupun kandungan unit-unitnya. Semakin banyak unit-unitnya semakin banyak pula KUK yang harus dibuktikan.

Berapa Lama Waktu Yang Diperlukan Mengikuti Assessment ?
Semakin banyak KUK yang harus dibuktikan, semakin lama waktu yang diperlukan untuk pembuktiannya. waktu yang diperlukan untuk mengikuti assessment, tergantung kepada kemampuan masing-masing asesinya. Akan tetapi secara umum assessor sudah dapat memprediksi waktu yang akan diperlukan untuk melaksanakan assessment terhadap asesinya, berdasarkan pra assessment dan assessment mandiri yang telah dilakukan
Apa itu Asesor?
Asesor adalah seseorang yang berhak melakukan asesmen terhadap suatu kompetensi, sesuai dengan ruang lingkup asesmennya. Dimana asesor akan berwenang dalam menilai dan memutuskan hasil Uji Kompetensi, bahwa peserta uji telah memenuhi bukti yang dipersyaratkan untuk dinyatakan kompeten atau belum kompeten pada unit kompetensi yang dinilai serta merekomendasikan hasil tersebut kepada Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) dan Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP)

Assessment hanya bisa dilaksanakan oleh assessor yang sudah memiliki license atau memiliki tanda pengakuan/sertifikat dari suatu institusi yang berkompeten dan diakui oleh penggunanya untuk menerbitkan sertifikat tersebut. Dalam kaitan ini, assessor yang dimaksud adalah seseorang yang memahami prosedur pelaksanaan assessment, dan telah mengikuti pelatihan assessor serta telah mendapat sertifikat kompeten sebagai assessor yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Mengapa harus mengambil Sertifikat Kompetensi?
Saat ini baik pemberi kerja maupun pencari kerja, sama-sama ingin menunjulkan kebutuhan dan informasi yang instant. Bagi pemberi kerja yang sedang mencari tenaga kerja, mereka ingin mencari calon karyawan yang sudah kompeten dibidang yang diperlukan.

Mereka ingin menggunakan cara yang mudah untuk melakukan seleksi dan rekrutmennyaan dan tidak ingin membuang waktunya terlalu lama untuk melakukan pembinaan dan pelatihan lagi.

Bagi para pencari kerja, mereka ingin agar segera dapat diterima oleh perusahaan yang sedang mencari tenaga kerja, dan mengharapkan tingkat kemampuannya atau kompetensinya langsung diakui oleh penerima kerja tanpa harus bersusah payah untuk mendapatkan pengakuan, dan menunggu berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun.

Dengan sertifikat kompetensi, kedua belah pihak juga akan menggunakan penilaian dan pengakuan yang standard, sehingga dapat mencegah turn over karyawan yang tinggi.

Apa hubungan Sertifikat Kompetensi Dengan Globalisasi dan Liberalisasi?
Dengan datangnya Globalisasi dan Liberalisasi ASEAN, maka peluang untuk berkompetisi antar negara , bukan hanya disektor produksi saja, tetapi juga disektor tenaga kerja. Karena setiap kesempatan kerja dapat dimasuki oleh calon dari berbagai penjuru dunia. Yang akan menjadi filter dan bahan seleksinya adalah standard kompetensi.

Negara barat dan negara maju lainnya, sudah terbiasa menggunakan standar dan sertifikat kompetensi. Sehingga dalam persaingan, mereka akan lebih unggul. Perusahaan local penerima tenaga kerja yang nasionalismenya rendah, akan mengalahkan rasa kebangsaan demi kepentingan bisnis semata, dengan menerima bangsa asing yang lebih jelas kompetensinya. Untuk itu perlunya sertifikat kompetensi yang diberlakukan dinegara kita, yaitu yang dikeluarkan oleh BNSP

Mengapa dan apa keuntungan sertifikasi kerja?
Setelah terbitnya UU Ketenaga Kerjaan Nomor 13 Tahun 2003 dilanjutkan dengan keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 23 Tahun 2004 tentang Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dan PP 31 Tahun 2006 tentang Sistem Pelatihan Kerja Nasional menunjukkan bahwa pelaksanaan sertifikasi tenaga kerja di berbagai sektor industri semakin meningkat.

BNSP melalui Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) yang didukung oleh Pemerintah, Asosiasi Industri, Asosiasi Profesi, Lembaga Diklat Profesi dan masyarakat di bidang ketenagakerjaan semakin berkembang dalam meningkatkan pelaksanaan sertifikasi kompetensi tenaga kerja di masing-masing sektor, hal ini memberikan dampak positif dengan meningkatnya daya saing dan produktivitas tenaga kerja.

Mengapa sertifikasi kompetensi kerja diperlukan?
Sertifikasi kompetensi kerja adalah merupakan suatu pengakuan terhadap tenaga kerja yang mempunyai pengetahuan, ketrampilan dan sikap kerja sesuai dengan standar kompetensi kerja yang telah dipersyaratkan, dengan demikian sertifikasi kompetensi memastikan bahwa tenaga kerja (pemegang setifikat) tersebut terjamin akan kredibilitasnya dalam melakukan suatu pekerjaan yang menjadi tugas dan tanggung jawabnya.
Apa keuntungan sertifikasi kompetensi?
Sertifikasi Kompetensi jelas akan mempengaruhi dan memberikan jaminan baik terhadap pemegangnya ataupun pihak lain.
Berikut beberapa keuntungan sertifikasi kompetensi:
1. Bagi Pencari Kerja yang mempunyai sertifikat kompetensi :

a. Kredibilitas dan kepercayaan dirinya akan meningkat
b. Mempunyai bukti bahwa kompetensin yang dimiliki telah diakui
c. Bertambahnya niali jual dalam rekrutmen tenaga kerja
d. Kesempatan berkarir yang lebih besar
e. Mempunyai parameter yang jelas akan adanya keahlian dan pengetahuan yang dimiliki

2. Bagi Karyawan di tempat kerja yang telah bersertifikat :

a. Jenjang karir dan promosi yang lebih baik
b. Meningkatkan akses untuk berkembang dalam profesinya
c. Pengakuan terhadap kompetensi yang dimiliki

3. Bagi Perusahaan / Tempat Kerja :

a. Produktivitas meningkat
b. Mengurangi kesalahan kerja
c. Komitmen terhadap kualitas
d. Memudahkan dalam penerimaan karyawan
e. Mempunyai karyawan yang berdaya saing, terampil dan termotivasi

Apa Tugas Seorang Asesor?
Tugas assessor adalah melaksanakan assessment terhadap asesi. Oleh karena itu assessor harus memahami semua formulir-formulir atau alat bantu dan seluruh perangkat assessment-nya. Dalam melaksanakan assessment, assessor tidak dapat menjalankannya sendiri. Karena assessor hanya dapat bekerja atas penugasan dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP). Begitu pula dalam melakukan assessment-nya, assessor tidak bisa menentukan sendiri, baik metoda maupun Materi Uji Kompetensi (MUK) nya. Karena pelaksanaan assessment harus atas kebijakan LSP, yang juga telah dibahas bersama dengan team assessor. Oleh karenya assessor tidak bias berdiri sendiri.
Apakah Setiap Assessor Boleh Melaksanakan Assessment?
Idealnya, assessor harus menguasai kompetensi bidang pekerjaan yang akan di assess nya. Sehingga setiap langkah pengumpulan buktinya, dapat dengan mudah diketahui, dan lebih efisien waktunya. Assessor yang menguasai kompetensi bidang pekerjaan yang di assess-nya disebut dengan assessor competency.
Apakah assessor yang tidak menguasai kompetensi bidang pekerjaan dari asesinya, dapat melakukan assessment?
Assessor yang tidak menguasai kompetensi bidang pekerjaan asesi, tetap dapat melakukan assessment terhadap asesi dari bidang lain. Karena asesor disamping menguasai prosedur assessment dengan benar, juga akan diberi pengarahan oleh LSP. Akan tetapi assessor yang bukan assessor competency, harus dibantu atau didampingi oleh ahli pada bidang pekerjaan tersebut, atau “subject specialist”. Assessor seperti ini disebut dengan Assessor lisensi.
Apa itu Pelatihan Asesor?
Pelatihan Asesor adalah pembelajaran yang berisikan tentang metodologi asesmen seseorang asesor, dimana teknik pembelajaran melalui penyampaian materi dengan Bertatap Muka, Diskusi, Penugasan, Role Play/Bermain Peran, hingga Uji Kompetensi dan Uji Asesor. Peserta akan dibimbing oleh Master Asesor yang ditugaskan oleh BNSP selama pelatihan berlangsung. Durasi Pelatihan dilaksanakan selama 5 hari. Pelatihan Asesor ini dilaksanakan berdasarkan Standar Unit Kompetensi Metodologi BNSP.
Pertanyaan Lanjutan
Masukan pertanyaan